Kota Padang kembali terjerembab dalam bencana yang seharusnya sudah bisa diprediksi dan dicegah. Sebanyak 27.433 warga terdampak, dengan banjir, banjir bandang, longsor, pohon tumbang, hingga puting beliung terjadi di puluhan titik. Setidaknya lima warga meninggal, jalan terputus, dan ribuan rumah terendam. Pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat, tetapi pertanyaannya: sampai kapan kota ini terus hidup dalam lingkaran darurat yang sama setiap tahun? Bencana di Padang bukan lagi urusan alam semata.
Ini adalah hasil dari pembiaran, penerobosan tata ruang, pemotongan lereng, dan lemahnya pengawasan daerah aliran sungai. Kawasan Koto Tangah — kecamatan paling luas sekaligus paling terdampak — adalah saksi nyata bagaimana ekspansi permukiman dibiarkan berkejar-kejaran dengan degradasi lingkungan. Sementara itu, bukit-bukit yang menjadi penyangga kota terus tergores eksavator dan pembangunan liar.
Setiap kali hujan ekstrem datang, Padang seakan lupa bahwa ia berada di antara gunung dan pantai, dengan sejarah banjir bandang yang panjang. Kota ini membutuhkan perencanaan ruang yang disiplin, bukan pernyataan simpatik di kala bencana. Yang dibutuhkan warga bukan kunjungan pejabat yang datang meninjau ketika air sudah selutut, melainkan kebijakan pencegahan yang benar-benar dijalankan.
Kita melihat pola yang selalu berulang: Drainase dangkal, pemukiman di sempadan sungai, hutan kota yang terus menyusut, dan sistem peringatan dini yang tak pernah diproyeksikan secara serius. Pemerintah kota mesti berani mengakui bahwa mitigasi bencana selama ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tidak cukup sekadar membuat rencana — dokumen-dokumen itu harus dibumikan menjadi tindakan nyata.
Kini saatnya Padang berhenti menjadi kota yang setiap tahun menunggu bencana. Siklus ini hanya dapat diputus dengan audit menyeluruh tata ruang, penegakan hukum lingkungan, dan pembenahan total sistem drainase dan daerah tangkapan air. Setiap izin pembangunan harus diuji dengan ketat terhadap risiko bencana. Setiap sentimeter kawasan lindung harus dijaga seperti aset kota yang tak ternilai.
Para pemimpin daerah tidak boleh lagi berdiri di balik alasan klasik “curah hujan ekstrem”. Hujan hanyalah pemicu — ketidakbecusan kitalah penyebab sesungguhnya. Padang membutuhkan keberanian untuk berubah. Jika tidak, angka 27 ribu warga terdampak hari ini akan menjadi angka tahunan yang terus membesar — dan kita akan terus menulis editorial yang sama, tentang kota yang tak pernah belajar dari kesalahannya sendiri. (YURNALDI, Pemimpin Redaksi Ajardetiks.com)

Social Header